Kemantapan Agrerat Tanah Secara Cepat
A. ACARA IV : Kemantapan Agrerat Tanah Secara Cepat
B. TANGGAL : 23 Maret
2022
C. TUJUAN : Untuk mengetahui
kekuatan ikatan antar partikel tanah
D. METODE : Peredaran campuran air dan alkohol E. ALAT DAN BAHAN :
1. Alat : Cawan plastik,
pipet tetes, alkohol, H20, pisau, spatula 2.
Bahan : contoh tanah gumpalan kering udara
F. CARA KERJA
1. Ambil contoh tanah
kering (kalau perlu dikeringkan dulu di bawah terik matahari atau dibakar dengan spiritus), dan
pilihlah agregat berdiameter kira-kira 8
mm.
2. Siapkan sederet campuran
air-alkohol dengan perbandingan air.•alkohol
(100:0), (90:10), (80:20), (70:30), (60:40), (50:50), (40:60),
(30:70), (20:80), (10:90) dan (0:100).
Jadi semua ada 1 1 macam perbandingan.
3. Isi lekukan piring tetes
dengan campuran itu, 4 lekukan diisi dengan
campuran yang sama (pengamatan dengan 4 ulangan), jadi seluruhnya
ada 44 buah lekukan.
4. Kemudian tiap lekukan
diisi dengan agregat tanah seeukupnya (4-5 butir) dan diamati gejala penguraian agregat. Untuk
tanah ringan perendaman dilangsungkan
selama 1-2 meniit sebelum dimulai pengamatan, sedang untuk tanah yang lebih berat ditunggu selama
10- 15 menit.
5. Agregat dicatat sebagai
terurai kalau gejala itu teramati pada
sekurangkurangya 75% dari jumlah ulangan (3 dari 4 ualangan).
Catatlah % air tertinggi dalam campuran
yang agregat tidak tampak terurai.
6. Makin tinggi (%) air
agregat tidak terurai, makin mantap agregatnya.
Klasifikasi kemantapan agregat dapat disusun sebagai berikut:
|
% air tertinggi yang tidak terurai |
sebutan kemantapan agrerat |
|
80 - 100 |
Kuat |
|
40 – 70 |
Sedang |
|
0 - 30 |
Lemah |
Catatan:
a. Daya air mengurai
agregat > daripada alkohol karena :
- Tetapan dielektriknya lebih besar (pada 25 ℃ air 78,54 dan
alkohol 24,30) - Tegangan mukanya lebih besar (pada 20 ℃ air 72,75 dyne.cm-1
dan alkohol 23,04 dyne.cm-1
- Viskositasnya lebih kecil (pada 20℃ air 1,005 centipoise dan
alkohol 1,200) - Karena tegangan mukanya
lebih besar dan viskositasnya lebih kecil, air lebih mudah dan lebih cepat memasuki pori-pori,
sehingga udara yang berada dalam
pori-pori berkesempatan lebih sedikit untuk terlepas keluar, hal ini
berakibat tekanan dakhil lebih cepat
karena udara yang termampat.
b. Diameter agregat yang diuji boleh lebih kecil daripada 8 mm,
asal untuk satu derert pengamatan
seragam.
c. Pada tanah ringan gejala penguraian agregat lebih jelas, karena
hanya ada dua kemungkinan, yaitu utuh
dan terurai sama sekali. Pada tanah yang lebih
berat (lempungan) dapat terjadi gejala-gejala antara berupa retak dan
pecah. Gejala - gejala semacam ini sudah
termasuk terurai.
d. Agregat harus kering, sebab kalau lembab atau basah air yang
ada akan mengubah harga-harga tetapan
dielektrika, tegangan muka dan viskositas,
sehingga tidak tepat lagi menurut perbandingan air : alkohol.
G. HASIL PENGAMATAN
1. Data Pengamatan
|
H₂O |
Alkohol |
Keterangan |
|
100% |
0% |
SEDANG |
|
90% |
10% |
LEMAH |
|
80% |
20% |
LEMAH |
|
70% |
30% |
KERAS |
|
60% |
40% |
SEDANG |
|
50% |
50% |
KERAS |
|
40% |
60% |
SEDANG |
|
30% |
70% |
LEMAH |
|
20% |
80% |
LEMAH |
|
10% |
90% |
SEDANG |
|
0% |
100% |
SEDANG |
2. Keterangan
-Agregat tanah regosol
yaitu sedang.
-Kondisi bongkah
rata-rata mengalami retak.
H. PEMBAHASAN
Agregat tanah terbentuk jika partikel-partikel tanah menyatu
membentuk unit unit yang lebih besar. Kemper dan Rosenau (1986), mendefinisikan
agregat tanah sebagai kesatuan partikel
tanah yang melekat satu dengan lainnya lebih kuat dibandingkan dengan partikel sekitarnya. Dua
proses dipertimbangkan sebagai proses
awal dari pembentukan agregat tanah, yaitu flokulasi dan fragmentasi. Flokulasi terjadi jika partikel tanah yang
pada awalnya dalam keadaan terdispersi,
kemudian bergabung membentuk agregat. Sedangkan fragmentasi terjadi jika
tanah dalam keadaan masif, kemudian
terpecah-pecah membentuk agregat yang lebih
kecil (Martin et al., 1955).
Tanah yang teragregasi dengan baik biasanya dicirikan oleh tingkat
infiltrasi, permeabilitas, dan
ketersediaan air yang tinggi. Sifat lain adalah tanah tersebut mudah diolah, aerasi baik, menyediakan media
respirasi akar dan aktivitas mikrobia
tanah yang baik (Russel, 1971). Untuk dapat mempertahankan kondisi tanah seperti itu, maka perbaikan kemantapan
agregat tanah perlu diperhatikan.
Kemantapan agregat tanah dapat didefinisikan sebagai kemampuan tanah
untuk bertahan terhadap gaya-gaya yang
akan merusaknya. Gaya-gaya tersebut dapat
berupa kikisan angin, pukulan hujan, daya urai air pengairan, dan
beban pengolahan tanah.
Agregat tanah yang mantap akan mempertahankan sifat-sifat tanah
yang baik untuk pertumbuhan tanaman,
seperti porositas dan ketersediaan air lebih lama dibandingkan dengan agregat tanah tidak
mantap. Atas dasar itu, maka Kemper dan
Rosenau (1986) mengembangkan temuan bahwa makin mantap suatu
agregat tanah, makin rendah kepekaannya
terhadap erosi (erodibilitas tanah). El-Swaify
dan Dangler (1976) mendapatkan bahwa parameter-parameter kemantapan
agregat (berat diameter rata-rata dan
ketidakmantapan agregat kering dan basah) adalah lebih besar korelasinya terhadap erodibilitas
dibandingkan dengan kandungan liat,
debu, debu dan pasir sangat halus, bahan organik, struktur dan
permeabilitas.
Juga ditunjukkan Rachman dan Abdurachman kurang akuratnya
nomograf erodibilitas yang dibuat oleh
Wischmeier et al. (1971) untuk tanah-tanah tropis yang diteliti. Sejumlah faktor mempengaruhi
kemantapan agregat. Faktor-faktor
tersebut antara lain pengolahan tanah, aktivitas mikrobia tanah, dan
tajuk tanaman terhadap permukaan tanah
dari hujan. Pengolahan tanah yang berlebihan cenderung memecah agregat mantap menjadi agregat tidak
mantap. Sangat sering terjadi kemantapan
agregat tanah menurun pada sistem pertanian tanaman semusim, seperti pada tanaman jagung. Dalam penuntun
ini akan dikemukakan dua metode
penetapkan kemantapan agregat. Metode pertama adalah metode pengayakan ganda (multiple-sieve) yang dikemukakan oleh
De Leeheer dan De Boodt (1959), sedangkan yang kedua adalah metode pengayakan
tunggal yang dikemukakan oleh Kemper dan
Rosenau (1986).
Tanah adalah benda alam yang terdapat dipermukaan kulit bumi, yang
tersusun dari bahan-bahan mineral
sebagai hasil pelapukan batuan, dan bahan-bahan organic. Tanah merupakan tempat hidup dan bertumbuhnya
suatu tanaman yang memiliki banyak
sekali unsur-unsur yang terkandung didalamnya, unsur-unsur inilah yang akan dimanfaatkan tanaman untuk mendukung
pertumbuhan dan perkembangannya
tersebut. Daya serap setiap tanah, tentunya berbeda-beda hal ini dikarenakan unsur dan struktur penyusun tanah
tersebut dan pori-pori tanah yang
berbeda-beda. Semakin besar pori-pori tanah tersebut lebih mudah dialiri
air namun tidak mudah menyerap air,
sedangkan pori-pori tanah yang kecil lebih bisa
menyerap air. Tanah dapat menyerap air juga dikarenakan tanah memiliki
gaya gaya seperti adhesi, kohesi, dan gravitasi. Tanah lebih mudah menyerap
air dibandingkan menyerap air alcohol,
alcohol lebih mudah menguap serta memiliki
kandungan penyusun yang berbeda. Hal ini yang membuat tanah tidak
mudah dalam menyerap secara langsung
kepada cairan alcohol tersebut. Tanah yang
menyerap banyak air akan lebih mudah terurai (hancur) jika diberikan
tekanan. Sehingga tanah tersebut menjadi
lebih mudah memecah dan hancur menjadi lebih
halus dan kecil (dari yang awalnya besar/bongkahan). Pada
percobaan yang dilakukan diujikan dengan
beberapa cairan alcohol dan air yang terdiri dengan perbandingan-perbandingan antara air dan
alcohol. Sebagai contohnya : 100% air
dan 0% alcohol atau 0% air dan 100% alcohol. Dari kedua contoh
tersebut merupakan contoh merupakan yang
murni 100% dari masingmasing kandungan
tersebut, sedangkan yang 50% air dan 50% alcohol artinya dalam botol
tersebut telah dicampur kadar air
sebesar 50% dan kadar alcohol sebesar 50% yang
digabungkan. Pengujian menggunakan pipet tetes untuk mengambil larutan
pada wadah botol kemudian meneteskan ke
bongkahan tanah tersebut, penetesan ditetes
hingga bongkahan tersebut basah namun tidak membanjiri hingga
tumpah. Tentunya menggunakan beberapa
sampel air alcohol sesuai dengan tabel yang
diatas tersebut. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa tanah
akan menyerap air (H2O) dibandingkan
dengan alcohol, sehingga gumpalan tanah yang
diberikan larutan yang mengandung kadar air tinggi seharusnya lebih
mudah hancur dibanding dengan kadar air
rendah. Berbeda dengan gumpalan tanah yang
diberikan dengan kadar alcohol tinggi sekalipun, bongkahan tersebut
kemungkinan juga tidak gampang untuk
dihancurkan. Selain dikarena alcohol mudah menguap jika terkena udara disekitar.
I. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum Dasar Ilmu Tanah pada Acara 4 yang
berjudul “Kemantapan Agregat Tanah
Secara Cepat” dapat ditarik beberapa kesimpulan
sebagai berikut:
1. Tanah lebih bisa /
mudah untuk menyerap air (H2O) dibandingkan alcohol.
2. Sebutan kemantapan agregat yang diberikan mulai dari keras,
sedang dan lemah. Hal ini tergantung
bongkahan tersebut mudah atau tidaknya hancur saat diberikan tekanan. 3. Tanah dapat menyerap air juga
dikarenakan tanah memiliki gaya-gaya
seperti adhesi, kohesi, dan gravitasi.
4. Agregat tanah yang mantap akan mempertahankan sifat-sifat tanah
yang baik untuk pertumbuhan tanaman,
seperti porositas dan ketersediaan air lebih lama dibandingkan dengan agregat tanah tidak
mantap. 5. Setinggi apapun alkoholnya,
bongkahan tetaplah akan susah dihancurkan dibandingkan dengan kadar air
yang tinggi akan membuat bongkahan
tersebut lebih mudah untuk memecah.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2019. Petunjuk Umum Praktikum Dasar Ilmu Tanah Pertanian.
Institut Pertanian Stiper. Yogyakarta.
De Leenheer, L., and M. De Boodt. 1959. Determination of aggregate
satability by the change in mean weight
diameter. Overdruk Uit Medelingen Van de Staat te Gent. International Symposium on Soil
Structure, Ghent, 1958.
El-Swaify, S. A., and E. W. Dangler. 1976. Erodibilities of
selected tropical soil in relation to
structural and hydrological parameters. Hawai Agric. Exp. Sta. Bull, No. 2019.
Kemper, E. W., and R. C. Rosenau. 1986. Aggregate stability and
size distrution. p. 425-461. In A. Klute
(Ed.) Method of Soil Analyisis Part 1. 2nd ed. ASA. Madison. Wisconsin.
Martin, J. P., W. P. Martin, J. B. Page, W. A. Raney, and J. D. De
Ment. 1955. Soil Aggregation. Adv.
Agron. 7: 1-38.
Russel, E. W. 1971. Soil Conditions and Plant Growth. 10th Ed.
Longmans, London. p. 479-513.
Wischmeier, W. H., C.B. Johnson, and B. V. Cross. 1971. A soil
erodility nomograph for farmland and
construction site. J. Soil and Water Cons. 26:
189-193
Komentar
Posting Komentar