SIFAT DAN SIKAP YANG HARUS DIPUNYAI SEORANG PEMIMPIN
Menjadi pemimpin memangbukan sebuah pilihan yang tiba-tiba saja datang menghampiri seseorang. ada semacam syarat yang harus dipunyai oleh mereka yang pantas memimpin. apabila syarat itu tidak ada, atau belum dipunyai, maka kurang pantas seseorang itu memimpin atau dipilih menjadi pemimpin. seorang kepala keluarga bila tidak mempunyai syarat ini, kurang pantas ia menjadi kepala keluarga. lebih luas lagi, pemimpin negara misalnya, seperti presiden, sultan, raja, perdana menteri, juga tidak pantas memimpin bila syarat ini tidak dimiliki. Apakah syarat-syarat itu?
Pemimpin harus mempunyai sifat dan sikap yang adil, arif, dan bijaksana, jujur, amanah, tegas, pemberani, lemah lembut, sederhana, penyayang dan pengasih, seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. semua itu sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin. tanpa itu semua, pemimpin tidak akan mampu menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya. Alhasil, kemiskinan, ketidakadilan sosial, nepotisme, korupsi, praktik mafia, dan sebagainya, selamanya akan tetap menjadi persoalan yang tidak akan terselesaikan. ini yang perlu dan bisa kita refleksikan dinegara ini.
A. Adil
Adil adalah sifat yang sangat terpuji yang harus dipunyai seorang. bersikap adil berarti menunjukkan sikap seimbang, tidak berpihak kepada yang tidak sepantasnya dibela, tidak berat sebelah, dan tidak memihak salah satu. Dalam bahasa arab, adil/'adil mempunyai makna dasar 'al-istiwa'(kondisi lurus/sama) dan 'al-i'wijaj (kondisi menyimpang). secara istilah dapat dipahami, kata 'adl berarti' menetapkan hukum dengan benar. Al-Ashfahani mendefinisikan kata 'adl dengan arti "memberikan pembagian yang sama". sementara itu, pakar lain mendefinisikan 'adl dengan 'penempatan sesuatu pada tempat yang semestinya'. ada juga yang menyatakan bahwa 'adl adalah 'memberikan hak kepada pemiliknya melalui jalan yang terdekat'. hal ini sejalan dengan pendapat Al-Maraghi yang memberikan makna kata 'adl dengan 'menyampaikan hak kepada pemiliknya secara efektif''.Itulah pemahaman tentang adil. seperti halnya dengan definisi adil itu sendiri, seorang pemimpin harus mampu berbuat seimbang, tidak berat sebelah, dasar kebijaknnya adalah persamaan hak dan kewajiban, serta mampu memilih mana yang tepat dan tidak tepat. tanpa ada sifat-sifat semacam ini, seorang pemimpin akan celaka, rakyat menderita, lalu tibalah saatnya masa kehancuran ditengah masyarakat. Peringatan semacam ini pernah disampaikan oleh Rasulullah:
Hai segenap manusia!. Seseungguhnya tidak lain yang membinasakan orang-orang sebelum kamu ialah: apabila orang terpandang diantara mereka mencuri mereka membiarkannya (tidak dijatuhi hukuman) dan apabila orang yang lemah diantara mereka mencuri, mereka menetapkan hukuman diatasnya. Demi dzat yang menguasai diri Muhammad di tangan kekuasaanya-Nya, sekiranya Fatimah anak perempuan Muhammad yang mencuri, pasti aku akan memotong tangannya.
Asghar Ali Engineer dalam Islam dan Teologi Pembebasan, menyampaikan bahwa Islam pada awalnya lebih dari sekedar gerakan religius. tetapi, islam juga merupakan gerakan ekonomi. Dengan kitab sucinya Al-Quran,islam sangat menentang struktur sosial yang tidak adil dan menindas ditengah masyarakat. bahkan, Al-Quran menempatkan keadilan sebagai bagian integral dari takwa. Dengan kata lain, takwa didalam islam bukan hanya sebuah konsep rituslistik semata, namun secara integral terkait dengan keadilan sosial dan ekonomi. Itulah beberapa alasan pentingnya pemimpin memiliki sikap adil. selain bagian dari tuntutan islam, keadilan juga tuntutan bagi setiap masyarakat yang menginginkan kesejahteraan hadir di tengah mereka. dengan sikap adil yang dipunyai pemimpin, rakyat lemah dan tidak berdaya akan terlindungi kepentingan kepentingannya. para pejabat yang sering merampas hak-hak rakyat bisa dihukum lalu dipecat dari jabatannya. para kaum kapitalis yang suka menindas rakyat yang tidak berdaya akan semakin sempit kesempatannya.
B. Arif dan Bijaksana
Dalam pribadi seorang pemimpin sudah seharusnya tertanam sikap arif dan bijaksana. Arif mempunyai pemahaman, teliti bila menghadapi kesulitan, atau sebelum memutuskan sebuah perkara atau tindakan. Bijaksana, bisa dipahami sebagai selalu menggunakan akal budinya untuk bertindak. Akal budi merupakan pertimbangan yang tidak hanya berdasarkan logika, tetapi hati nurani, sebagai dasar pertimbangan. oleh karena itu, sifat arif dan bijaksana ini sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin. Kearifan dan nilai kebijaksanaan akan menuntun seorang pemimpin dalam mengawal orang yang dipimpinnya. Nabi Muhammad telah mengajarkan kepada kita semua, tentang bagaimana bagaimana menjadi seorang pemimpin yang arif dan bijaksana. pemimpin yang memiliki karisma, dan mampu bersikap arif dan bijaksana terhadap siapapun orangnya.
Ada kisah menarik tentang kearifan yang dibuktikan oleh Rasulullah Saw. ketika itu ada sebuah pasukan kecil mampu mengalahkan pasukan besar. yaitu tatkala pasukan kafir dari makkah yang dipimpin Abu Jahal kalah dari kaum muslimin. Madinah menyambut mereka dengan gembira. kecuali Yahudi dan kaum musyrikin, termasuk orang-orang munafik, mereka sangat terpukul. tadinya mereka berharap, Muhammad tewas dan pasukan islam dihancurkan. kaum muslimin pulang, mereka membawa rampasan perang dan lebih kurang 50 orang tawanan. Nabi Muhammad Saw belum memutuskan tawanan itu akan dibagaimanakan. dalam keadaan seperti itu, Abu Bakar ra datang memberikan saran agar Nabi Saw bermurah hati membebaskan tawanan dengan tebusan. Namun, Nabi Saw diam dan tidak menjawab saran Abu Bakar. lalu, Umar datang menemui Nabi Saw dan memberikan pendapatnya pula. Umar ra dengan tegas menyarakan agar semua tawanan dihukum mati karena mereka adalah musuh-musuh Allah. mereka telah memerangi Nabi Saw dan kaum muslimin. akan tetapi, Nabi Saw tidak menjawab usulan Umar. beliau masuk ke dalam kamarnya. Kaum muslimmin terbelah dua, sebagian mendukung pendapat Abu Bakar dan yang lain mendukung usulan Umar. jika Nabi Saw salah mengelola perbedaan pendapat yang tajam dari dua orang terdekat ini, tentu akan terjadi perpecahan. Nabi Saw kemudian keluar menemui kaum muslimin untuk menyampaikan keputusannya. Mula-mula Nabi memuji Abu bakar "Ibarat malaikat, Abu bakar itu seperti Mikail yang diturunkan Allag membawa sifat pemaaf kepada hamba-Nya. kalau (diibaratkan) Nabi, Abu bakar seperti Ibrahim yang berkata, 'Barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya engkau, Maha pengampun lagi Maha penyayang. "Kaum muslimin yang mendukung pendapat Abu bakar merasa senang". Kemudian, Nabi Saw memuji umar. "ibarat malaikat, umar itu seperti jibrik diturunkan membawa kemurkaan dari Tuhan dan bencana terhadao musuh-musuh. Umar itu seperti Nuh yang mengatakan, 'Ya Tuhanku, janganlah engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal diatas bumi. "Para pendukung pendaoat Umar juga senang. Abu bakar dan Umar senang, Nabi Saw tidak menyalahkan pendapat mereka. Sahabt-sahabat lain juga senang, baik yang pro-Abu abakr maupun Umar. Tetapi, tugas pemimpin tidak hanya memuat pengikutnya senang tanpa ada keputusan. bagaimanapun Nabi Saw harus memilih salah satu pendapat itu Maka, Nabi Saw memilih pendapat Abu bakar walaupun pilihan itu ditegur oleh Allah tercantum dalam QS AL-Anfaal ayat 67, "Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya dimuka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah maha perkasa lagi Maha Bijaksana.
Tatkala pendapatnya tidak dipilih Nabi Saw, Umar ridha (ikhlas) dengan lapang dada. Tatkala pendapatnya dibenarkan Allah, Umar tidak menepuk dada. Dari kisah diatas nampak jelas bagaimana sikap kearifan dan kebijaksanaan terpancar jelas dari sosok Nabi Muhammad. Pemimpin yang bijaksana akan melahirkan umat yang bijaksana. karena itulah, patut kiranya kita refleksikan pelajaran-pelajaran berharga yang diberikan oleh Rasulullah kepada kita, khususnya bagi para pemimpin kita agar lebih bisa arif dan bijak dalam menyelesaikan segala permasalahan.
C. Jujur dan Amanah
Dua hal yang paling urgent dari sifat seorang pemimpin, ialah jujur dan amanah. jujur adalah salah satu dari sifat terpuji manusia. Barometernya apabila memberikan informasi sesuai dengan kejaidan atau kenyataan yang sebenarnya. dalam dunia kepemimpinan, jujur tidak jauh dengan integritas diri. apabila ada seorang pemimpin selalu mengajak menjauhi perkara korupsi, namun ternyata ia sendiri korupsi, ia tidak termasuk pemimpin yang berintegritas tinggi. apabila seorang pemimpin mengajak bawahannya untuk selalu berkata jujur, tapi ia sendiri berbohong, maka ia bukan tipe pemimpin yang berintegritas. karena itu kejujuran merupakan sifat yang perlu ditanam kuat dalam diri seorang pemimpin. adapun amanah memiliki makna yang serasi dengan tanggung jawab. jadi amanah merupakan wujud tanggung jawab terhadap setiap tugas yang dipikul. Namun ada yang memaknai lain. amanah adalah kesesuaian antara tugas atau kewajiban dengan kemampuan. pemimpin harus mempunyai kedua sifat ini, yakni kejujuran dan tanggung jawab (amanah), tanpa sifat amanah kepemimpinan akan tumbang, wujudnya janji-janji yang disebarkan ke tengah rakyat agar memilihnya pada akhirnya diingkari.
D. Lembut Sekaligus Tegas
Lembut sekaligus tegas, suatu sikap yang sangat jarang dimiliki oleh seorang pemimpin. terhadap orang lain yang benar, ia bersikap lemah lembut, ia menghargai, menghormati, mencintai, dan melindungi hak-haknya. sedangkan pada orang yang jahat yang suka memakan hak-hak orang lain, ia bersikap sangat tegas. Dalam masalah pribadi, Nabi Saw lembut simpatik dan toleran, pada banyak peristiwa yang dicatat dalam sejarah, toleransi Nabi Saw merupakan salah satu alasan beliau mencapai kesuksesan. Namun, dalam masalah prinsip mengenai masalah kepentingan masyarakat, agama, dan hukum kesepakatan, Nabi Saw bersikap sangat tegas dan tidak pernah memperlihatkan sikap tolerannya. Nabi Muhammad sebagai pribadi pemimpin agung tidak tahan melihat penderitaan umatnya, sangat menginginkan keselamatan dan kebahagiaan umatnya, sangat mengasihi, memaafkan dan memohon ampun kesalahan umatnya, mau bermusyawarah dengan umatnya, dan bertawakal kepada Allah setelah bulat tekadnya.
Dalam konteks kepemimpinan, Nabi Saw mengembangkan kepemimpinan moral dalam kehidupan politiknya. ini merupakan respons yang sangat tepat dalam menghadapi struktur masyarakat pra-islam yang feodalistik dan represif, karena yang ditekankan adalah aspek moralitas (akhlak al-karimah). Oleh karena itu, dengan model pendekatan yang lembut, santun namun tegas menjadi strategi bagi Nabi Saw dalam membimbing moral masyarakat jahiliyah.
E. Sederhana
Satu hal lagi yang menjadi teladan dari sosok kepribadian Nabi Muhammad Saw yaitu kesederhanaannya. Meski merupakan seorang pemimpin besar, beliau sama sekali tidak merasa gengsi atau malu hidup sederhana. berbeda dengan pemimpin-pemimpin sekarang yang cenderung mengedepankan hidup mewah dan glamor. pembentukan sikap sederhana paling awal adalah dari orang tua dirumah. apabila orang tua tidak menanamkan hidup sederhana sejak dini, dan menjadi teladan secara konsisten, jangan berharap bahwa anak-anak mereka akan tumbuh dengan memiliki jiwa hidup sederhana.
F. Rendah hati (Tawadhu)
Rendah hati adalah sifat tidak menyombongkan diri atau dengan kata lain: tahu diri. istilah ini berasal dari bahasa arab yaitu tawadhu yang artinya merendah. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini persamaannya yaitu 'rendah hati'. sifat ini bagian dari akhlak terpuji yang harus dimiliki oleh manusia. sifat rendah hati ini sangat penting diterapkan oleh para pemimpin. sehebat apapun pemimpin, dihadapan masyarakat jangan sampai menyombongkan diri. Lantaran mempunyai pangkat dan jabatan, lantas kita enggan bergaul dengan masyarakat kelas bawah yang tidak punya jabatan penting. pemimpin yang rendah hati disukai Allah dan rakyatnya. apabila kita sebagai pemimpin bisa seperti ini, kecintaan masyarakat pada kita akan begitu besar diberikan.
Komentar
Posting Komentar